Tutup

Karyawan Vale tersenyum di lanskap hijau. Dia mengenakan seragam Vale
hijau, kacamata, helm, dan penutup telinga. Artefak gelombang visual Vale
Imagem de header interno Imagem de header interno

Pengembangan Masyarakat dan Inovasi Pengobatan Tradisional Berbasis Herbal

Masalah kesehatan menjadi salah satu aspek yang cukup krusial di tingkat masyarakat, salah satunya yang terjadi pada masyarakat di area operasional Pertambangan. Dengan data dari Puskesmas Kecamatan Nuha mengungkapkan 10 penyakit yang sering menyerang masyarakat selama 3 tahun terakhir, dengan jumlah antara 12.643 hingga 17.586 kasus. Di antaranya, influenza muncul sebagai penyakit yang paling umum, terhitung 7.737 kasus (17,5%). Sayangnya, penanganan penyakit ini sangat bergantung pada fasilitas kesehatan, baik di puskesmas maupun di rumah sakit, seperti yang ditunjukkan oleh data BPS Luwu Timur pada tahun 2020, di mana 65,94% kunjungan kesehatan ke puskesmas dan 13,55% ke rumah sakit, menunjukkan ketergantungan masyarakat pada tindakan kuratif yang mahal. Selain itu, pandemi Covid-19 menekankan perlunya komoditas penambah kekebalan tubuh seperti jahe merah. Untuk mengatasi masalah ini, ada kebutuhan mendesak untuk program yang disusun dengan baik untuk menawarkan solusi yang layak. Program ini harus fokus pada peningkatan tindakan pencegahan, mempromosikan ketersediaan dan aksesibilitas alternatif perawatan kesehatan yang terjangkau, dan memanfaatkan potensi sumber daya alam seperti jahe merah untuk meningkatkan kekebalan secara efektif.
Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) merupkan bagian dari program PPM PT Vale Indonesia Tbk yang diinisiasi sejak tahun 2016 sampai sekarang. Pencetusan program ini didasari oleh tingginya kunjungan ke fasilitas kesehatan, rata-rata jenis penyakit yang dikeluhkan merupakan penyakit degeneratif yang dapat di cegah secara promotif dan preventif, dan belum optimalnya pemanfaatan tanaman obat yang ada di sekitar masyarakat. Peserta merupakan masyarakat  umum dari kelompok perempuan seperti PKK, Kelompok Wanita Tani (KWT), Dasawisma, masyarakat lainnya, pengelola program kesehatan tradisional di Puskesmas wilayah pemberdayaan PT Vale Indonesia Tbk (Puskesmas Nuha, Wasuponda, Wawondula, Timampu, Mahalona, Bantilang, Malili, Lampia). Perserta diberikan pelatihan herbal dasar, kewirausahaan jamu, pelatihan meracik, meramu, keterampilan pijat, Herbal lanjutan dan ToT secara bertahap oleh dokter herbal medik dan tim. Selanjutnya dalam pengaplikasian rencana tindak lanjut pelatihan dan kegiatan di masing-masing peserta dilakukan pendampingan. 
Peserta yang telah megikuti pelatihan membuat Taman Berkhasiat Obat (TOGA), mulai dari menyiapkan kebutuhan tanam, menanam merawat, panen dan mengolahnya. Seiring dengan berjalan waktu mucul minat dan bakat peserta untuk menjadi seorang penyehat tradisional (Hatra) dan seorang pengusaha jamu. Para peserta membentuk sebuah wadah para penggiat herbal yang bernama HIPHO (Himpunan Penggiat Herbal Organik) pada tahun 2019. Kegiatan yang dilakukan oleh perkumpulan ini berupa pengembangan herbal baik tingkat desa, kecamatan, kabupaten, bakti sosial dan promosi herbal. Setelah itu muncul insiasi berupa dibangunnya tempat pelayanan kesehatan tardisonal empiris yang terpusat bernama Rumah Sehat HIPHO. Dikelola oleh para anggota HIPHO, Rumah Sehat HIPHO mulai beroperasi sejak juni 2022. 
Di sisi lain, pengelola program Hatra puskesmas setelah mengikuti ToT pada tahun 2019 melakukan pembinaan dan menyebarluaskan pengetahuan mengenai herbal kepada kelompok Asuhan Mandiri (Asman) di wilayah kerja Puskesmas. Selain itu mereka juga menginisiasi pojok jamu setiap bulan di setiap Puskesmas dan Martabak berdasi (Mari rangkul penderita diabetes dan hipertensi) dimana kelompok sasaran rata-rata kelompok lansia. Peserta mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan setap bulannya serta kegiatan lainya seperti penyuluhan kesehatan, pemanfaatan tanaman obat dan pijat akupresur untuk mengatasi penyakitnya, senam sehat dan pertemuan tahunan, saat ini kelompok martabak berdasi terbagi menjadi 2 kelas dan peserta sekitar 60/ kelasnya.

Dampak pada bidang Kesejahteraan Masyarakat:

Dampak program ini sangat besar, terbukti dengan pencapaian berikut: 

  1. Berubahnya mindset masyarakat yang beralih dari ketergantungan terhadap obat-obatan kimia dan beralih ke obat-obatan herbal yang jauh lebih ramah terhadap lingkungan, kesehatan, dan finansial.

  2. Sertifikasi 38 orang sebagai ahli pengobatan herbal primer tradisional. 

  3. Keterlibatan aktif 379 peserta, membuktikan kuatnya keterlibatan dan komitmen masyarakat akan program ini 

  4. Sebagaimana dikonfirmasi oleh SLIA (Standardized Life Improvement Assessment), program ini memberikan dampak positif yang signifikan pada sektor Sumber Daya Manusia, yang menyebabkan peningkatan besar dalam nilai aset dari 0,97 menjadi 2,90.

Dampak pada bidang Ekonomi:

  1. Inovasi UKBM Herbal memiliki dampak ekonomi sosial, yaitu sebanyak 361 orang binaan mampu memanfaatkan tanaman berkhasiat obat untuk mengatasi keluhan kesehatan untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat sebagai upaya ASMAN (Asuhan Mandiri) serta peningkatan pendapatan kelompok dengan rata-rata pendapatan pada tahun 2018 sebesar Rp 912.500, tahun 2019 sebesar Rp 1.574.000, tahun 2020 sebesar Rp 9.663.625, tahun 2021 sebesar Rp 10.085.875, dan tahun 2022 hingga bulan Juni sebesar Rp 7.507.531.

  2. Melahirkan UMKM baru, menambah lapangan pekerjaan, serta meningkatkan pendapatan kelompok.

Dampak pada bidang Lingkungan:

  1. Program UKBM Herbal juga memberikan perubahan dalam layanan produk, awalnya masih menggunakan pestisida kimia sebesar 1540,7 Liter serta pupuk kimia sebesar 2000 kg, melalui kolaborasi dengan kelompok Padi SRI Organik menjadi menggunakan pestisida organik sebesar 148 Liter dan pupuk organik sebesar 17,5 kg. Berdasarkan kajian Life Cycle Assessment yang dilakukan untuk mengkaji penanaman tanaman obat dengan sistem organik, secara garis besar terjadi penurunan dampak terhadap lingkungan berupa penurunan global warming sebesar 99,97%, penurunan toksisitas terhadap manusia sebesar 99,97%, dampak hujan asam sebesar 99,97%, dan eutrofikasi sebesar 99,89%. Hal ini disebabkan semua bahan-bahan kimia yang berdampak terhadap kerusakan lingkungan dapat dieliminasi dan digantikan dengan pupuk serta pestisida nabati.

  2. 3 tahun terakhir, pasca di intervensi oleh program, derajat keasaman tanah (Ph) yang sebelumnya berada di angka 5,8 (tanah asam, yang berarti kualitas tanah tidak bagus untuk digunakan sebagai lahan bercocok tanam) berubah menjadi rata-rata berada di angka 6-7 (yang berarti derajat keasaman tanah menjadi netral). Selain itu, juga telah dilakukan perhitungan terkait berapa banyak emisi gas yang tereduksi dengan adanya upaya mengganti input pertanian sintetis dengan organik.

Dampak pada bidang Tata Kelola:

  1. Para peserta membentuk sebuah wadah para penggiat herbal yang bernama HIPHO (Himpunan Penggiat Herbal Organik) pada tahun 2019.

Foto: Vale Indonesia

  • SDG 3: Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia

    • 3.8.1: Coverage of essential health services, including access to traditional and complementary medicine.

  • SDG 4: Menjamin Kualitas Pendidikan yang Inklusif dan Merata serta Meningkatkan Kesempatan Belajar Sepanjang Hayat untuk Semua

    • 4.7.1: Sejauh mana (i) pendidikan kewarganegaraan global dan (ii) pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (termasuk pendidikan kesehatan) diarusutamakan dalam (a) kebijakan pendidikan nasional; (b) kurikulum; (c) pendidikan guru; dan (d) penilaian siswa.

  • SDG 10: Mengurangi Kesenjangan Intra dan Antar Negara

    • 10.2.1: Proporsi penduduk yang hidup di bawah 50 persen dari median pendapatan, menurut jenis kelamin dan penyandang difabilitas.

Prinsip 9.1 Menerapkan pendekatan inklusif dengan masyarakat lokal untuk mengidentifikasi prioritas pembangunan mereka dan mendukung kegiatan yang berkontribusi terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi jangka panjang melalui kemitraan dengan pemerintah, masyarakat sipil dan lembaga pembangunan, jika diperlukan.

  • Program UKBM Herbal memiliki unsur kebaruan, yaitu panti sehat pertama di Kecamatan Nuha yang memiliki sinergi kelembagaan dengan membentuk lokal HIPHO dan tempat pelayanan kesehatan tradisional empiris (panti sehat) sebagai salah satu tempat untuk mendapatkan pelayanan, pengetahuan/edukasi dan pemasaran produk seputar herbal dan organik 

  • Program UKBM Herbal pada tahun 2022 memperoleh rekognisi dari Kementerian ESDM sebagai program Pengembangan & Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Terinovatif di bidang kesehatan pada sektor Perusahaan Mineral & Batu Bara.

Foto: Vale Indonesia